This Hedonist

Energetic. Optimistic. Dynamic.

Spontaneous. Full of fantasy.

Impulsive. Naive.

Avoid pain. Opposite feelings at committing.

Based on pleasure. Loyal. Helpful. Stimulating.

Own priorities.

Can’t believe anyone would want to commit with.

Live life to the fullest.

Faithfulness is not strong point.

People with problems. Social worker.

Don’t easily attach passion and affection.

Private. Self-centered. Secretive.

Observant. Flamboyant.

Unlimitedness.

Holiday Fling

It’s always your holiday fling
who gets your mood swinging

Everytime you hear his bell ringing
butterflies in your stomach start fighting

You’re the queen and he’s the king
perfect dream as short as the spring

Afterwards he leaves you waving
it tweaks a bit like a bee stings

19.06.2009

“the sweetest holiday fling is one that stays as holiday fling”

Bereksperimen dengan Eksperimentasi Produk Kreatif

Di semester 8, saya kembali bertamu ke dunia FSRD. Kali ini perhatian saya tertuju pada program studi Desain Produk. Awalnya saya mengambil mata kuliah Desain Produk Interaktif. Namun karena kekurangan peminat sehingga kelasnya ditutup, saya mengajukan PRS dan menggantinya dengan mata kuliah Eksperimentasi Produk Kreatif  yang sama-sama 2 sks.

Kuliah Eksperimentasi Produk Kreatif ini sebenarnya adalah sebuah eksperimen juga, karena untuk pertama kalinya dirilis. Di dalamnya, saya pun bereksperimen- eksperimen mengikuti kuliah yang merupakan eksperimen sebagai satu-satunya mahasiswa non-SR (bahasanya rumit nih :D). Pengalaman pertama memasuki kelas sebagai satu-satunya mahasiswa non-SR cukup mendebarkan. NIM saya yang berawalan “135” menempati nomor urut pertama pada daftar hadir.

Dosen : “Kamu dari jurusan mana?”
Saya    : “Informatika, Pak.”
Dosen : “Saya kira kamu DKV lho.”
Bisik-bisik di belakang saya : “Eh anak mana sih? Anak mana?”

Konsep penting yang saya peroleh dari kuliah ini yaitu mengenai kreatif dan inovatif. Kreatif berarti berbeda dengan yang sudah ada, sementara inovatif berarti lebih baik dari yang sudah ada. Kedua sifat ini saling mendukung dan tidak seharusnya dipisahkan. Sesuatu yang kreatif namun tidak inovatif akan menjadi hal yang tidak bermanfaat. Sebaliknya, sesuatu yang inovatif namun tidak kreatif akan berhenti di tempat.

Di luar dugaan saya,  kuliah ini menugaskan untuk mendesain produk betulan. Untunglah ada seorang mahasiswa Desain Produk yang dengan baik hati mau menjadi partner saya mengerjakan tugas tersebut. Amy namanya. Teman baru saya ini tekun dan sabar, membimbing saya yang  awam soal desain-mendesain produk (selain produk perangkat lunak). Walaupun tidak mahir, saya sangat menikmati proses pembuatan produk ini. Karena itu, dengan bangga saya mempersembahkan hasil kerja kami dalam bentuk slide di bawah ini.

Parodi yang Menohok

Di sela-sela bedrest, rutinitas Minggu pagi tidak boleh terlewatkan. Berkat keberadaan Kompas Minggu yang istimewa, rutinitas saya ini mencakup:

  • Membaca keseluruhan koran dengan teknik scanning
  • Membaca kartun Benny&Mice, Timun, dan Sukribo
  • Mengerjakan TTS bersama bapak saya
  • Membaca rubrik Parodi asuhan Oom Samuel Mulia

Setiap edisi Parodi selalu membawa angin segar bagi pembaca. Dan kali ini, angin segar yang bertiup luar biasa kencang hingga menerbangkan topeng-topeng saya. Cukup menohok dengan rangkuman Kilas Parodi sebagai berikut:

Jangan Pernah…

  1. …berhenti mencintai. Cinta yang seratus persen pada pasangan Anda itu mampu mengalahkan ketidakbenaran, mampu mempertahankan perahu agar tidak kandas.
  2. …berpikir bahwa dengan mencintai seratus persen Anda tak memiliki ruang untuk diri sendiri.
  3. …mencintai kalau Anda tak siap. Jangan pernah menyalahkan pasangan kalau sejujurnya Anda yang tak siap dalam segalanya.
  4. …berpikir, memiliki ruang untuk diri sendiri dan mencintai seratus persen itu adalah sebuah perbedaan seperti siang dan malam. Itu sebuah komplimen.
  5. …kalau Anda diciptakan untuk menjadi pengganggu hubungan orang, kecuali Anda sakit jiwa, merasa seperti bidadari penolong atau superman.
  6. …untuk jadi pengecut. Kalau Anda merasa hubungan itu menjadi hambar, mbok bicara sama pasangannya, jangan diam saja atau malah curhat sama orang lain.
  7. …untuk jadi oportunis. Cinta Anda itu bukan untuk dijadikan sarana mendekati pejabat ini dan itu, untuk naik ke jenjang profesi lebih tinggi, atau untuk memiliki masa depan yang lebih kinclong.
  8. …bahwa tidak akan ada harga yang harus Anda bayar dari berhenti mencintai kebenaran. Ingat, yang Anda taburlah yang akan dituai.

*artikel lengkap dapat dibaca di sini dan di situ.

Well, I’ve learned my lesson. Guess the whole universe conspires to help me rebuild my thinking. In the previous days, I watched “And Then Came Love”, “Baby Mama”, and “Good Luck Chuck” (for the bazillion times hee). Lately, I’ve been in some thoughtful life-changing discussion with various kind of friends. I feel quite unstable, yet try to gain my balance excitingly and frighteningly. I hope I’m not just doing the talk, though 🙂

P.S. : Memang benar, ketika dilanda sakit orang jadi lebih sensitif dan introspektif.

girls and their wants

Influenced by a friend of mine, I decided to stop by at Blockbuster and buy (pirated) DVD of  Vicky Christina Barcelona. Blockbuster is, by the way, my new-favorite DVD shop around the neighborhood. They also have two mini theatres, which I find pretty cool. I’d love to write some review as soon as I tried the mini theatre.

Anyway, from the movie Vicky Christina Barcelona, I extracted some essence of how girls define their wants under different problematic circumstances.

  • She doesn’t know what she wants, but she knows what she doesn’t want
  • She thought she knew what she wanted
  • She knows what she wants, yet she’s too afraid to leave her fake comfort zone

I consider the ending fairly realistic, that’s why I love it. Just keep in mind, being realistic doesn’t mean we can’t define and pursue our wants. Come come, while the time is right!

Cerita Kepala : Jonker Walk

Jonker Walk

Jonker Walk

Jonker Walk atau nama lainnya Jalan Hang Jebat adalah sebuah jalan yang cukup terkenal di Melaka, Malaysia. Dalam tur Singapura-Kuala Lumpur-Melaka, saya dan teman saya menikmati Jonker Walk di sore hari, 4 April 2009. Kami menyantap makanan peranakan di salah satu restoran, kemudian berjalan mengitari sambil melihat-lihat.

Saya sangat terpesona dengan keantikan kota Melaka dan kisah-kisah sejarah di baliknya. Khususnya untuk Jonker Walk, jalan ini mengingatkan saya akan Jalan Braga di Bandung. Jonker Walk sebenarnya agak sempit, bahkan lebih sempit dibandingkan Jalan Braga. Ditambah dengan lalu lalang mobil, motor, dan becak, pejalan kaki harus lebih berhati-hati. Menariknya, suasana di Jonker Walk sangat hidup. Di kiri kanan berdiri bangunan-bangunan kuno yang tertata cantik, entah dipergunakan sebagai restoran, kafe, penginapan, atau toko barang antik dan suvenir. Sayang sekali saat itu saya tidak punya banyak waktu, sehingga saya tidak sempat menikmati Jonker Walk di malam hari yang diramaikan dengan tenda-tenda berjualan.

Hal yang terbersit di kepala saya sampai saat ini yaitu : Seharusnya Jalan Braga bisa lebih bagus lagi daripada Jonker Walk. Siapa tahu nanti, ketika saya menjadi Walikota Bandung 😀

Ketika teman jauh berkunjung ke Kota Kembang

Ketika teman jauh berkunjung ke Kota Kembang, wisata kuliner selalu jadi pilihan yang tepat. Apalagi saat itu teman saya tidak punya banyak waktu. Kami hanya sempat makan malam di Sushiboon dan mencuci mulut di Braga Permai. Sesekali saya imbuhi wisata sejarah, ya mumpung melewati kawasan Asia-Afrika dan Braga. Mungkin di kesempatan lain ketika teman jauh berkunjung ke Bandung, saya bisa lebih total menjadi pemandu wisata. Bisa wisata kuliner, wisata sejarah, wisata alam, yang penting wisata di Bandung. Ah saya jadi rindu memandu wisata 😀