Tag Archives: filosokis

This Hedonist

Energetic. Optimistic. Dynamic.

Spontaneous. Full of fantasy.

Impulsive. Naive.

Avoid pain. Opposite feelings at committing.

Based on pleasure. Loyal. Helpful. Stimulating.

Own priorities.

Can’t believe anyone would want to commit with.

Live life to the fullest.

Faithfulness is not strong point.

People with problems. Social worker.

Don’t easily attach passion and affection.

Private. Self-centered. Secretive.

Observant. Flamboyant.

Unlimitedness.

Petuah Seorang Teman

Ini seperti ketika kamu tiba di negeri jiran. Sendiri, hanya ditemani perlengkapan bertualang. Hiruk-pikuk orang asing membuat jantungmu berdebar kencang. Merasa teralienasi, namun merasa tertantang. Wajahmu memerah panas, tidak ingin ada yang tahu kalau kamu bukan orang lokal. Berjalan teruslah berjalan. Sesekali membuka peta, mencari arah. Penuhi keberanian sampai langkahmu mantap. Ke mana kamu mau pergi, tak ada yang melarang. Kendali penuh ada di tanganmu, bukan masalah kalau tersesat. Puaskan lapar dan dahaga akan kenikmatan dunia. Lihat sekeliling dan resapi maknanya. Segala yang asing itu lambat laun menjadi bagian dari dirimu, melengkapi dengan pantas. Memorimu penuh dengan setiap liku jalan yang kamu taklukkan. Tapi hei, jangan keasikan bermain, seseorang yang sangat penting sudah menantimu dengan penuh harap.

Ketika kamu sudah siap, temuilah dia di gerbang stasiun. Sebelumnya ia bertualang sendiri juga, seperti kamu. Kalian bisa saling berbagi cerita perjalanan yang seru. Seolah kamu sudah sekian lama menanti momen ini, maka bersyukur. Berjalan berdampingan berarti kenyamanan baru, sekaligus masalah baru. Setiap langkah yang diambil adalah  kesepakatan bersama, itu harus. Kamu tidak selalu bisa pergi ke tempat yang kamu mau. Pilihlah arah dengan seksama dan jangan tersesat, karena dia mungkin menggerutu. Buka hatimu dan percayakan padanya, tidak seharusnya kamu merasa takut. Ketika satu orang bisa mencapai destinasi yang menakjubkan, maka dua orang akan menjadikannya lebih mudah dengan saling mendukung. Jadi kenapa kamu ragu untuk membagi kenyamanan itu?

Aku sudah bicara terlalu banyak, sampai akhirnya kamu pun berkata:

Biarkan aku  mengambil perjalanan solo sekali lagi, karena ini adalah momen besar dalam hidupku. Aku ingin menggali diriku sedalam-dalamnya dan memandang dunia seluas-luasnya. Aku akan menjadi manusia yang stabil, tahu pasti akan apa yang kuinginkan dalam hidup. Setelah itu, barulah aku bertemu dengannya di stasiun. Aku akan menyambutnya dengan hangat, karena aku sudah siap membagi perjalanan dengan dia, seterusnya.

Aku berjanji padamu, kawan, bukan supaya kamu tidak marah padaku. Tapi karena aku yakin bisa tiba di stasiun tepat waktu. Aku tidak ingin datang kepagian, apalagi kesiangan. Sekarang masih terlalu pagi, sehingga sekali lagi aku akan mengambil perjalanan solo terlebih dahulu. Kamu tidak perlu mencemaskanku, justru saat ini aku paling membutuhkan doa dan dukungan darimu. Dan aku selalu tahu, kamu adalah jagoannya dalam membangkitkan semangatku.

25.05.2009

timbul tenggelam

ikuti arus, tapi jangan terbawa hanyut

tentukan destinasi, tanpa sesal dan takut

karena timbul tenggelam hanya membuat kalut

13.04.2009

Pintu Terlarang (Kita)

kita ini seperti bongkah-bongkah es

setiap bongkahan berisi racun dunia

dan ketika pintu terlarang itu dibuka

hawa panas yang merebak

akan meluruhkan bongkah-bongkah es kita

We Choose and We Are Choices Itself

Hidup penuh dengan pilihan. Setiap saat kita memilih. Mulai dari rutinitas harian seperti memilih makanan untuk sarapan, baju yang dipakai, dan rute perjalanan, hingga membuat pilihan penting yang menentukan arah hidup seperti sekolah, pekerjaan, dan pasangan. Posisi kita tidak selalu sebagai pemilih, ada kalanya kitalah yang menjadi pilihan. Baik menjadi pemilih maupun pilihan memiliki konsekuensi. Di sinilah kita harus berakrobat menyeimbangkan diri dengan arus kehidupan.

Beberapa waktu yang lalu saya menonton film “My Blueberry Nights” karya Wong Kar Wai. Sebuah film drama romansa yang tadinya saya kira film petualangan. Ya memang ada petualangan hidupnya, tapi dengan alur lambat yang membuat saya tertidur hehe. Anyway, saya suka dengan pewarnaan gambarnya. Kemudian yang paling membekas di benak saya adalah sebuah adegan percakapan di kafe beberapa saat setelah kafe tersebut tutup:

Café Owner : “At the end of every night, the cheesecake and the apple pie are always completely gone. The peach cobbler and the chocolate mousse are nearly finished. But there’s always a whole blueberry pie left untouched.”

Broken-hearted Customer : “So what’s wrong with the blueberry pie?”

Café Owner : “There’s nothing wrong with the blueberry pie. It’s just people make their choices. You can’t blame the blueberry pie. It’s just no one wants it.”