Tag Archives: indie

Parodi yang Menohok

Di sela-sela bedrest, rutinitas Minggu pagi tidak boleh terlewatkan. Berkat keberadaan Kompas Minggu yang istimewa, rutinitas saya ini mencakup:

  • Membaca keseluruhan koran dengan teknik scanning
  • Membaca kartun Benny&Mice, Timun, dan Sukribo
  • Mengerjakan TTS bersama bapak saya
  • Membaca rubrik Parodi asuhan Oom Samuel Mulia

Setiap edisi Parodi selalu membawa angin segar bagi pembaca. Dan kali ini, angin segar yang bertiup luar biasa kencang hingga menerbangkan topeng-topeng saya. Cukup menohok dengan rangkuman Kilas Parodi sebagai berikut:

Jangan Pernah…

  1. …berhenti mencintai. Cinta yang seratus persen pada pasangan Anda itu mampu mengalahkan ketidakbenaran, mampu mempertahankan perahu agar tidak kandas.
  2. …berpikir bahwa dengan mencintai seratus persen Anda tak memiliki ruang untuk diri sendiri.
  3. …mencintai kalau Anda tak siap. Jangan pernah menyalahkan pasangan kalau sejujurnya Anda yang tak siap dalam segalanya.
  4. …berpikir, memiliki ruang untuk diri sendiri dan mencintai seratus persen itu adalah sebuah perbedaan seperti siang dan malam. Itu sebuah komplimen.
  5. …kalau Anda diciptakan untuk menjadi pengganggu hubungan orang, kecuali Anda sakit jiwa, merasa seperti bidadari penolong atau superman.
  6. …untuk jadi pengecut. Kalau Anda merasa hubungan itu menjadi hambar, mbok bicara sama pasangannya, jangan diam saja atau malah curhat sama orang lain.
  7. …untuk jadi oportunis. Cinta Anda itu bukan untuk dijadikan sarana mendekati pejabat ini dan itu, untuk naik ke jenjang profesi lebih tinggi, atau untuk memiliki masa depan yang lebih kinclong.
  8. …bahwa tidak akan ada harga yang harus Anda bayar dari berhenti mencintai kebenaran. Ingat, yang Anda taburlah yang akan dituai.

*artikel lengkap dapat dibaca di sini dan di situ.

Well, I’ve learned my lesson. Guess the whole universe conspires to help me rebuild my thinking. In the previous days, I watched “And Then Came Love”, “Baby Mama”, and “Good Luck Chuck” (for the bazillion times hee). Lately, I’ve been in some thoughtful life-changing discussion with various kind of friends. I feel quite unstable, yet try to gain my balance excitingly and frighteningly. I hope I’m not just doing the talk, though 🙂

P.S. : Memang benar, ketika dilanda sakit orang jadi lebih sensitif dan introspektif.

Petuah Seorang Teman

Ini seperti ketika kamu tiba di negeri jiran. Sendiri, hanya ditemani perlengkapan bertualang. Hiruk-pikuk orang asing membuat jantungmu berdebar kencang. Merasa teralienasi, namun merasa tertantang. Wajahmu memerah panas, tidak ingin ada yang tahu kalau kamu bukan orang lokal. Berjalan teruslah berjalan. Sesekali membuka peta, mencari arah. Penuhi keberanian sampai langkahmu mantap. Ke mana kamu mau pergi, tak ada yang melarang. Kendali penuh ada di tanganmu, bukan masalah kalau tersesat. Puaskan lapar dan dahaga akan kenikmatan dunia. Lihat sekeliling dan resapi maknanya. Segala yang asing itu lambat laun menjadi bagian dari dirimu, melengkapi dengan pantas. Memorimu penuh dengan setiap liku jalan yang kamu taklukkan. Tapi hei, jangan keasikan bermain, seseorang yang sangat penting sudah menantimu dengan penuh harap.

Ketika kamu sudah siap, temuilah dia di gerbang stasiun. Sebelumnya ia bertualang sendiri juga, seperti kamu. Kalian bisa saling berbagi cerita perjalanan yang seru. Seolah kamu sudah sekian lama menanti momen ini, maka bersyukur. Berjalan berdampingan berarti kenyamanan baru, sekaligus masalah baru. Setiap langkah yang diambil adalah  kesepakatan bersama, itu harus. Kamu tidak selalu bisa pergi ke tempat yang kamu mau. Pilihlah arah dengan seksama dan jangan tersesat, karena dia mungkin menggerutu. Buka hatimu dan percayakan padanya, tidak seharusnya kamu merasa takut. Ketika satu orang bisa mencapai destinasi yang menakjubkan, maka dua orang akan menjadikannya lebih mudah dengan saling mendukung. Jadi kenapa kamu ragu untuk membagi kenyamanan itu?

Aku sudah bicara terlalu banyak, sampai akhirnya kamu pun berkata:

Biarkan aku  mengambil perjalanan solo sekali lagi, karena ini adalah momen besar dalam hidupku. Aku ingin menggali diriku sedalam-dalamnya dan memandang dunia seluas-luasnya. Aku akan menjadi manusia yang stabil, tahu pasti akan apa yang kuinginkan dalam hidup. Setelah itu, barulah aku bertemu dengannya di stasiun. Aku akan menyambutnya dengan hangat, karena aku sudah siap membagi perjalanan dengan dia, seterusnya.

Aku berjanji padamu, kawan, bukan supaya kamu tidak marah padaku. Tapi karena aku yakin bisa tiba di stasiun tepat waktu. Aku tidak ingin datang kepagian, apalagi kesiangan. Sekarang masih terlalu pagi, sehingga sekali lagi aku akan mengambil perjalanan solo terlebih dahulu. Kamu tidak perlu mencemaskanku, justru saat ini aku paling membutuhkan doa dan dukungan darimu. Dan aku selalu tahu, kamu adalah jagoannya dalam membangkitkan semangatku.

25.05.2009